Potensi Kebencanaan di Provinsi Sulawesi Tenggara   Leave a comment

Erosi

Pemindahan tanah oleh angin, air atau tanah longsor dengan kecepatan yang lebih tinggi dari proses pembentukan tanah untuk menggantinya, hal ini biasa dikenal dengan nama erosi. Erosi tanah ini biasanya diakibatkan oleh kegiatan manusia seperti pembersihan vegetasi dan penanaman pada lahan yang miring tanpa langkah konservasi tanah. Aktivitas yang dapat mempercepat proses ini adalah pertambangan/penggalian bahan bangunan (pasir, kerikil, batukali). Aktivitas ini dapat merubah atau mempercepat arus sungai dan proses sedimentasi dengan cepat sehingga menambah laju erosi. Indikasi yang dapat dilihat yaitu timbulnya sedimentasi di muara-muara sungai dan kekeruhan dengan tingkat yang cukup tinggi, hal ini dapat dilihat di perairan Desa Komba-Komba, Kec. Kabangka, Kab. Muna dengan demikian diperkirakan sungai-sungai yang mempunyai muara di lokasi-lokasi tersebut di atas mengalami erosi.

Gerakan Tanah

Memperhatikan susunan batuan penyusun, kemiringan lereng dan tingkat pelapukan di daerah Sulawesi Tenggara, maka bahaya lingkungan yang berupa gerakan tanah meliputi: rayapan, tanah longsor dan jatuhan batuan. Gejala alam berupa rayapan dimungkinkan terjadi pada daerah morfologi perbukitan yang mempunyai relief menyudut, memanjang dan susunan batuannya memiliki sisipan batu lempung atau mempunyai lapisan pelapukan yang tebal. Tanah longsor adalah jenis gerakan tanah yang lebih cepat daripada rayapan dapat terjadi selain di daerah perbukitan dan pegunungan berelief tinggi yang mempunyai ketebalan Lapisan tanah cukup tebal atau pada daerah yang mempunyai rekahan kekar dengan kerapatan tinggi. Jatuhan batuan adalah jenis gerakan tanah yang terjadi pada batuan segar terutama berlangsung pada tebing yang curam akibat patahan atau pemotongan bukit untuk pembuatan jalan raya atau di daerah penambangan gejala alam berupa gerakan tanah seperti tersebut di atas, banyak dijumpai di daerah perbukitan dan pegunungan Sulawesi Tenggara, Pulau Buton, Pulau Muna dan Pulau Kabaena.

Banjir

Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di daerah morfologi dataran sungai, misalnya di Sampara, Pondidaha, Lambuya dan Lasolo Kabupaten Kendari, Punudoho Batu putih Kabupaten Kolaka, daerah Tepoe Kabupaten Buton dan daerah Baruga di Kota Kendari. Sebagai unsur penunjang bencana banjir di Sulawesi Tenggara ini adalah tingginya tingkat erosi di daerah hulu yang dimungkinkan karena vegetasi penutup relatif berkurang, yang pada tahapan lebih lanjut akan membentuk sedimentasi di daerah hilir.

Abrasi

Abrasi adalah proses erosi pantai yang diakibatkan oleh aktivitas gelombang di pantai. Hal ini menjadi fenomena yang terjadi pada sebagian besar pantai di Sulawesi Tenggara. Abrasi dapat dilihat di sekitar perairan Kecamatan Lasolo, menurut sumber masyarakat setempat air laut merayap hampir sekitar 30 m ke arah daratan. Hal ini diakibatkan karena menipisnya mangrove yang menjadi pelindung daerah pantai di kecamatan Lasolo. Selain di Kecamatan Lasolo, abrasi dapat dilihat di sekitar pantai Lemobajo, Soropia, sekitar terminal Torobulu, Kec. Bubu, Kec. Kioko, Tangketada, Poleang, Kep. Wakatobi dan tempat lainnya yang masih harus diidentifikasi, terutama untuk daerah yang memiliki pantai terbuka. Proses abrasi ini akan sangat nampak ketika musim gelombang besar berlangsung, hal ini biasa terjadi pada musim timur dimana gelombang dari Laut Banda akan langsung menghantam daerah  pantai Sulawesi Tenggara bagian timur, terutama di pulau Buton (contoh kasus di pantai Desa Bubu dan Kioko).

Akrasi

Majunya garis pantai terjadi akibat pendangkalan di muara sungai, misalnya yang terjadi Desa Komba-Komba, Kabupaten Muna, Tinanggea, (Kabupaten Kendari); Teluk Kendari, Kelurahan Mata, (Kota Kendari); dan masih banyak lagi tempat lain yang belum teridentifikasi. Pendangkalan ini disebabkan oleh tingginya kandungan material yang tersedimentasi. Selain dari tingginya material material sedimentasi, rendahnya gradien sungai serta melemahnya arus sungai di daerah muara mengakibatkan terjadinya banjir sungai.

Intrusi Air Laut

Daerah pesisir Sulawesi Tenggara secara umum masih merupakan daerah dengan tingkat kependudukan dan industri yang jarang, kecuali pada beberapa lokasi tertentu. Hal ini mengakibatkan pengambilan air tanah belumlah seintensif daerah pesisir yang mempunyai aktivitas tinggi (misal daerah pesisir di pulau utara Jawa), sehingga intrusi air laut secara umum belum terjadi. Penyusupan air laut ke dalam air tanah bebas hanya dijumpai pada jalur yang dekat dengan garis pantai seperti di daerah Tanjung Bahumbelo. Berdasarkan penyebaran hutan bakau, maka penyusupan air laut mencapai kurang dari 10 km dari garis pantai. Adapun kualitas air di muara yang bersifat payau merupakan kualitas alami air tanah daerah tersebut, mengingat daerah tersebut merupakan daerah pasang surut dan ketersediaan air tanah sangat dipengaruhi oleh faktor iklim.

Kegempaan

Sulawesi Tenggara merupakan daerah yang terletak pada zona subduksi yang merupakan pertemuan dari tiga lempeng, yaitu lempeng benua Eurasia, Indo-Australia dan lempeng Samudera Pasifik. Dengan demikian wilayah Sulawesi Tenggara sangat potensial sekali untuk terjadinya gempa dikarenakan aktivitas lempeng-lempeng tersebut, karena lempeng- lempeng tersebut bergerak relatif satu dengan yang lainnya, sehingga terjadi geseran dan tumbukan yang akan menyebabkan terjadinya timbunan energi yang potensial  menimbulkan gempa. Dari gambar terlihat bahwa wilayah Sulawesi Tenggara cukup potensial untuk terjadinya gempa seismik, tampak bahwa titik-titik gempa (episentrum) permukaan yang kedalamannya ≤ 70 km (gempa dangkal) tersebar di sepanjang jazirah Sulawesi Tenggara bagian Timur, sedangkan untuk gempa dalam yang mana letak episentrumnya >300 km tersebar di sekitar Kabupaten Kendari bagian tenggara, Pulau Muna dan Pulau Buton.

Tektonik Lempeng di Indonesia (Latief, 2002)

Tsunami

Indonesia dan sekitarnya mempunyai konvergensi lempeng yang sangat rumit, dimana terdiri dari subduksi, collision, back-arc thrusting, back-arc dan opening faults. Hasil dari kompleksitas ini maka Indonesia ditinjau dari sudut pandang geofisika merupakan salah satu daerah yang paling aktif di dunia. Tidak kurang dari gempa dengan magnitudo M > 4.0 terjadi setiap tahunnya (Ibrahim dkk., 1989). Banyak diantara gempa-gempa yang terjadi mengakibatkan kerusakan besar serta kematian yang tinggi, seperti diberikan oleh Latief (2000). Sebagai tambahan terhadap tingginya aktivitas seismik dari hasil proses subduksi di daerah ini adalah banyaknya gunung api aktif, yaitu sekitar 76 gunung api yang pernah meletus (Kusumadinata, 1979). Berdasarkan hubungan antara tsunami, aktivitas kegempaan dan karakteristik seismotektonik yang diberikan oleh Latief, 2002 maka Propinsi Sulawesi Tenggara sebagian besar termasuk pada Zona E, yaitu : Pulau Sulawesi, Pulau Buton, Pulau Muna, Pulau Kabaena, Pulau Wawonii, dan kepulauan Tukang Besi termasuk kedalam zona C

Berdasarkan tinggi run-up tsunami yang mencapai daratan berdasarkan Zonasi Tinggi Run- Up di Indonesia, Propinsi Sulawesi Tenggara berpotensi mengalami bencana tsunami dengan tinggi run-up kurang lebih 2 meter (Zona 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 4.6. Run-up yang pernah terjadi di Sulawesi Tenggara menurut basis data tsunami ( Latief, 2002) yaitu run-up di Nipa-Nipa pada 12 Desember 1820 dengan kategori “Great Destruction”. Disamping itu kejadian tsunami di sekitar Sulawesi Tenggara merupakan tsunami kiriman
dari Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku serta laut sekitarnya seperti Tsunami Flores pada tahun 1993 yang berefek di sekitar daerah Bau-Bau dan Buton selain itu Tsunami Banggai
(2000) yang berefek di sekitar P. Wawonii.

Pembagian Zona Seismotektonik Indonesia (Latief, dkk, 2002)

Peta Zonasi Indonesia Berdasarkan Tinggi Run-Up (Latief, dkk, 2002)

Sumber :

ATLAS PESISIR & LAUT UNTUK LOKASI MCMA PROPINSI SULAWESI TENGGARA

Hasil Kerjasama Antara :
PT. SUPERINTENDING COMPANY OF INDONESIA

dengan
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
PROPINSI SULAWESI TENGGARA

Edisi Pertama

-2002-

Iklan

Posted April 24, 2012 by bangwilsultra in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: